<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-22943279</id><updated>2011-04-21T13:57:54.326-07:00</updated><title type='text'>[UmaUmba]</title><subtitle type='html'>My journey in Sumba island</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://quigonjean.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://quigonjean.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Qui-Gon-Jean</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12046164409557654863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://www.geocities.com/mailhendri/Aing.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22943279.post-115873937856022262</id><published>2006-09-20T00:01:00.000-07:00</published><updated>2006-09-20T01:02:58.603-07:00</updated><title type='text'>BULAN 6 : CARNIVAL</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"&gt;SUDAH sejak lepas Sekolah Dasar di desa Rancaekek Bandung, aku tidak pernah lagi merasakan atmosfir 17-an yang menyenangkan seperti ini. Entah lah. Mungkin karena di kota besar, momen seperti ini terlalu banyak omong kosongnya. Sedangkan ketika waktu di kampung halaman, dan kini di sini, di Waingapu, tidak ada hal lain kecuali bergembira. Seperti cari momen saja, begitu. Intinya hanya ingin keramaian. Yang kecil ingin ikut pawai, yang rada gedean ingin pamer skill akrobat, yang dewasa pingin liat barisan lawan jenis, yang tua pingin eksis. Begitu saja. Sederhana. Tanpa embel-embel "menjaga keutuhan bangsa", atau slogan dan jargon standar lainnya. Begitu lah. Dan aku? Hmm.. aku terlalu tua untuk pamer akrobat dan terlalu muda untuk sekadar "pingin eksis". Haha. You know lah. &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/Karnaval.jpg" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22943279-115873937856022262?l=quigonjean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://quigonjean.blogspot.com/feeds/115873937856022262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22943279&amp;postID=115873937856022262' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/115873937856022262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/115873937856022262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://quigonjean.blogspot.com/2006/09/bulan-6-carnival.html' title='BULAN 6 : CARNIVAL'/><author><name>Qui-Gon-Jean</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12046164409557654863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://www.geocities.com/mailhendri/Aing.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22943279.post-115873549257752151</id><published>2006-09-19T23:20:00.000-07:00</published><updated>2006-09-19T23:58:12.593-07:00</updated><title type='text'>BULAN 6 : TIMOR TENGAH SELATAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"&gt;BARU hari pertama di Soe, Timor Tengah Selatan, aku sudah keluyuran jalan kaki sambil menenteng kamera. Hari senin ini (7 agustus) kebetulan hari pembukaan pameran kebudayaan se-NTT di sebuah lapangan depan kantor Pemda Soe. Makanya kota Soe agak ramai, banyak orang mondar-mandir, ada yang terus-terusan latihan gerak jalan untuk lomba gerak jalan 40km 17-an nanti, dan frekuensi batang hidung aparat mulai meninggi. Namun tidak lama aku keluyuran di kota Soe. Sebentar aku menemukan sebuah belokan mencurigakan, diduga menuju hutan atau perkebunan. Aku belok ke sana. Jalan di sini sama dengan di Sumba. Naik-turun. Tidak lama aku menyerah dan mulai terlibat dalam adegan tawar menawar dengan seorang tukang ojek. Aku minta dia mengantarku ke tempat tertinggi terdekat. Di kilometer 20, katanya, sekitar setengah jam dari Soe. Okey . Maka tiba lah aku di padang rumput dengan pemandangan asoy di daerah Kapan, desa Binaus, Mollo.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/Timor.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"&gt;Suhu di Soe lebih dingin dari Bandung. Tapi mungkin sama dengan Lembang. Dan desa-desa diseputar Soe merupakan daerah perkebunan yang lumayan subur dan cukup beragam. Jeruk, kol, sampe madu. Heran juga, daerah TTS ini jauh lebih subur daripada banyak desa di Sumba. Tapi termasuk daerah sulit air. Entahlah. Aku kembali dari sini dengan membawa satu jerry can madu yang masih komplit dengan lebah-lebahnya. Untung aku tidak jadi bawa sopi (tuak Timor) karena koper dibongkar di bandara, dan petugas nyium-nyium botol madu yang kubawa. &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22943279-115873549257752151?l=quigonjean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://quigonjean.blogspot.com/feeds/115873549257752151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22943279&amp;postID=115873549257752151' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/115873549257752151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/115873549257752151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://quigonjean.blogspot.com/2006/09/bulan-6-timor-tengah-selatan.html' title='BULAN 6 : TIMOR TENGAH SELATAN'/><author><name>Qui-Gon-Jean</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12046164409557654863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://www.geocities.com/mailhendri/Aing.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22943279.post-115759934525827997</id><published>2006-09-06T18:42:00.001-07:00</published><updated>2006-09-20T01:55:46.343-07:00</updated><title type='text'>BULAN 5 : RESERVOIR DOGS</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;JULI adalah bulan milikku. Ya, dan karena itu di sesi ini adalah postingan ego. &lt;em&gt;Me, Myself and I&lt;/em&gt;. Dari awal bulan ini aku sudah melayanai diriku dengan mengajaknya bepergian sebentar ke Surabaya, mampir ke Gresik, lalu singgah untuk &lt;em&gt;kukulintingan&lt;/em&gt; di seputar Denpasar. &lt;em&gt;Buy this, buy that, eat this, drink that&lt;/em&gt;. Sampai dengan pertengahan bulan yang penuh sesak dengan jadwal lapangan, aku lebih senang untuk mengambil foto diriku dalam panorama dibanding panorama nya itu sendiri. Begitu lah. Tapi catatan penting buatku adalah ternyata aku masih mampu melakukan hiking.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/Iandme.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;Top-bottom in kuma-sia order: Me and Pam, Me in Hamapraing, Kids in Lai Lara, The "ball", the dog, the "ehem ehem", beach in Hamapraing, Me and a cupa coffee in Lukuwingir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tanggal 20 juli lalu kami melakukan &lt;em&gt;transect walk&lt;/em&gt; untuk monitoring sistem air bersih di desa Hamapraing. Maka kami harus menuju mata air di dusun Palindi yang jaraknya sekitar 20 kilo dari pemukiman penduduk. Mata air terletak di tengah hutan, dan untuk menuju ke sana kami harus melewati lembah diantara 2 bukit. Sialnya kami harus memotong bukit itu, menuruni dan mendaki kembali. Ya, kendati diujung acara ini aku menduduki tempat bontot menginjak finish (sambil diketawain ibu-ibu penduduk desa), tapi aku bangga. &lt;em&gt;I'm a fat ass who still able to get my ass up.&lt;/em&gt; &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22943279-115759934525827997?l=quigonjean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://quigonjean.blogspot.com/feeds/115759934525827997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22943279&amp;postID=115759934525827997' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/115759934525827997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/115759934525827997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://quigonjean.blogspot.com/2006/09/bulan-5-reservoir-dogs_06.html' title='BULAN 5 : RESERVOIR DOGS'/><author><name>Qui-Gon-Jean</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12046164409557654863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://www.geocities.com/mailhendri/Aing.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22943279.post-115000982224112557</id><published>2006-06-10T23:36:00.000-07:00</published><updated>2006-06-11T00:10:22.253-07:00</updated><title type='text'>BULAN 4 : EAGLE MAY CRY</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"&gt;SMS baru ku kirim satu menit yang lalu ketika kudengar klakson berbunyi di depan rumah kost. “Busyet, ini kan jam 4. katanya setengah 5?” Terpaksa kupercepat ritual kamar mandi meski dengan menyeringai dan gigi bergemeletuk. Sumba di musim kemarau suhunya dingin di malam hari. Apalagi di waktu subuh seperti ini. Hi-speed checking: kamera, baterai, binocular, ransum, OK. Kami berangkat.&lt;br /&gt;Tujuan kami adalah taman nasional Tanadaru yang berada di perbatasan Sumba Barat dan Timur. Namun kami tidak memasuki taman tersebut, namun menyusuri pinggiran hutan di sekitar taman tersebut dengan pertimbangan radius pandangan. Agenda kami hari ini adalah mengamati spesies-spesies burung terakhir di pulau ini. Bila kami masuk jauh ke hutan, sulit untuk mengamati dalam waktu cuma sehari ini. Karena akar gelantung dan dedaunan akan menjadi rintangan pandangan. Kami berangkat didampingi Dul Har, polisi hutan. Bisa dibilang, dia lah „raja hutan“ di wilayah ini.&lt;br /&gt;Ini pertama kali aku keluar dari pagi buta. Maka ini kali pertama aku melihat Waingapu diselimui kabut dari ketinggian di Waidinding. Dan sekitarnya puncak-puncak bukit bermunculan dari hamparan kapas putih. Ditambah dengan spektrum sunrise yang mulai membelai Sumba, memanggil seluruh isi pulau ini. Namun kami tak bisa berhenti. Kami harus tiba di sana sebelum jam 6.&lt;br /&gt;Kami berhenti persis di tugu perbatasan kabupaten. Mulai lah kami berjalan menyusuri pinggiran hutan. Target mulai bermunculan. Satu jenis suara, dua, tiga, dan seterusnya. Mulai dari merpati hutan, kakatua, ayam hutan, nuri, sampai walik Sumba. Semua sibuk dengan binocular masing-masing sambil mendengar penjelasan Dul Har. Ia sering menjelaskan jenis burung dalam bahasa latin diselingi dengan siulan untuk mendeskripsikan suara burung yang ia ceritakan. Aku mencoba mengambil gambar. Hah. Sangat-sangat tidak gampang. Namun ini memberiku semangat dengan sebuah agenda baru yang terbersit di benakku: Aku akan kembali dan kembali sampai mendapat gambar yang representatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/mailhendri/Tanadaru.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"&gt;Aku sedang sibuk mengambil gambar semua sisi pohon tua di hutan dalam wilayah Langgaliru, ketika kudengar Dul Har berteriak. Disusul dengan suara Ani memanggilku. Duh. Kuserobot belukar dan kudapati Dul Har sedang memangku seekor burung hitam. “Ini namanya kaloki. Kiwi Sumba. Ini dilindungi!“ Ku lihat burung itu hampir putus lehernya. Disekitarnya terbentang dahan-dahan pohon yang disusun sedekian rupa, dengan tiap beberapa jaraknya terdapat senar nilon terikat membentuk lingkaran dengan dikiri-kanannya terikat ranting-ranting membentuk pagar. Tingginya sekitar sejengkal jariku. Ini adalah jerat yang dibuat dengan profesional. Kutemui sarang burung itu tak jauh dari jerat tersebut. Dul Har memintaku untuk mengambil gambar. “Ini masalah serius. Besok kita buat tulisan disertai foto untuk berita acara dan koran.“ Dengan gemetar sambil menyumpah-nyumpah Dul Har mencabuti jerat yang mengelilingi sarang burung itu. Yang mengenaskan adalah apabila burung tersebut tak bisa ditangkap hidup-hidup, maka ia akan dibuat sate. Duh. Berkurang satu ekor spesies terakhir di pulau ini.&lt;br /&gt;Kami pulang sekitar jam 2 siang. Di tengah perjalanan kami menjumpai dua orang menyorongkan seekor burung Nuri yang diikat ke sebatang ranting. Dul Har langsung menyetop mobil. Ia menghampiri kedua orang itu dan tanpa ba-bi-bu ia sambar burung itu dan kembali naik ke mobil. Kuperhatikan kedua orang itu kebingungan namun tak berani berbuat apa-apa. Dul Har menceracau. Burung itu akan ia lepas besok. “Burung nuri ini memang burung bodoh. Ia mudah sekali ditangkap dan sering berkeliaran di kebun dan ladang. Ia termasuk langka meski belum dilindungi disini.“ Namun aku ingat waktu aku menggarap artikel tentang Flores waktu di TEMPO, burung ini termasuk satwa langka yang dilindungi disana. Entah mengapa di pulau ini belum diperlakukan sama seperti di Flores. Lebih mengenaskannya lagi, burung itu biasanya dijual hanya berkisar 50.000 rupiah. D’oh.&lt;br /&gt;Aktivitas hari ini baru pemanasan. Kami berjanji akan melakukan hal yang sama, namun dengan persiapan yang lebih matang. Kami berencana akan camping di daerah Wanggameti. Eits.. Wanggameti? Hell yes. Wanggameti adalah satu-satunya gunung di pulau ini.&lt;br /&gt;Dalam obrolan dengan Pam mengenai pulau ini, kami menemukan pemikiran yang sama: belum ada buku yang membahas pulau ini dari sisi ala “National Geographic”. Pam punya keinginan untuk membuat buku itu. Aku bilang bahwa selama ini juga aku mengambil gambar disini seolah-olah aku akan membuat buku. Klop lah. Meski masih cuma obrolan, namun aku mulai melihat kesempatan. Ha ya setidaknya ada satu pemodal yang punya niat yang sama. Bagus lah. &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22943279-115000982224112557?l=quigonjean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://quigonjean.blogspot.com/feeds/115000982224112557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22943279&amp;postID=115000982224112557' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/115000982224112557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/115000982224112557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://quigonjean.blogspot.com/2006/06/bulan-4-eagle-may-cry.html' title='BULAN 4 : EAGLE MAY CRY'/><author><name>Qui-Gon-Jean</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12046164409557654863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://www.geocities.com/mailhendri/Aing.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22943279.post-114931811442604819</id><published>2006-06-02T23:45:00.001-07:00</published><updated>2006-06-11T00:28:39.436-07:00</updated><title type='text'>BULAN 4 : TOMB RAIDER</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"&gt;ZIARAH aksidental. Sebenarnya hari ini aku hanya ikut presentasi dengan tim sosial di desa Rindi. Namun setelah beberapa saat setelah mulai presentasi, setelah jepret sana jepret sini, aku duduk-duduk di depan kantor desa dan memperhatikan atap rumah yang menyembul dari balik pepohonan. Entah kenapa aku melihat ada sesuatu yang lain dari atap rumah ini. Ia berkesan lebih megah dari atap yang biasa kutemui. Meski bentuknya sama, dan sama-sama dari ijuk. Merasa penasaran, aku memutuskan untuk berjalan ke arah rumah tersebut yang letaknya lebih tinggi dari kantor desa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/Rindi.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color:#c0c0c0;"&gt;TOMB of the Rende kingdom's family&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. hanya beberapa puluh meter saja dari kantor desa, aku menemukan rumah-rumah adat lain yang ternyata berkumpul mengelilingi sebuah tanah lapang berisi tumpukan-tumpukan batu. Tumpukan batu? Hm. Ternyata itu adalah barisan makam raja-raja kerajaan Rende. Ukiran diatas batu pada atap makam, dan ukuran batu nya sendiri yang membuatku menduga-duga bagaimana cara mereka untuk menempatkannya di atas tiang-tiang batu itu. Kadang yang namanya kecanggihan itu memang ilusi. Bayangkan, pulau dengan (maaf) miskin infrastruktur dan sumber daya alam, namun mampu membuat monumen-monumen yang memang kadang hanya sekedar sebuah semantik, sebuah bahasa estetika peradaban.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:webdings;font-size:78%;"&gt;&lt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22943279-114931811442604819?l=quigonjean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://quigonjean.blogspot.com/feeds/114931811442604819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22943279&amp;postID=114931811442604819' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/114931811442604819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/114931811442604819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://quigonjean.blogspot.com/2006/06/bulan-4-tomb-raider_02.html' title='BULAN 4 : TOMB RAIDER'/><author><name>Qui-Gon-Jean</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12046164409557654863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://www.geocities.com/mailhendri/Aing.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22943279.post-114931655929591887</id><published>2006-06-02T22:58:00.000-07:00</published><updated>2006-06-02T23:45:15.890-07:00</updated><title type='text'>BULAN 3 : FISHERMEN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;"NENEK moyangku.. seorang pelauut." Weekend ini mestinya agendanya 'cuma' mau selonjoran di pantai Londalima. Horison selalu memberiku energi baru disamping debur ombak yang tak pernah lelah menghanyutkan pasir ke bibir pantai. "Ketiadaan adalah eksistensi". Meski kata-kata ini kudapat dari Karib "Cryptical Death' yang belakangan kusadari orang ini rada 'waduk' tapi toh quote tersebut memang keren. Dan itu lah yang aku lihat pada horison. Sebuah ketiadaan. Sekaligus sebuah eksistensi. Horison memberiku semangat untuk memupuk kembali energi untuk menghampiri apapun yang berada di baliknya. Entah itu sebuah perjalanan hidup, kisah cinta, tragedi, serta apapun yang menjadi unsur kehidupan (cih).Aku berangkat berdua dengan Stefanus dengan motor bebek miliknya. Di tengah perjalanan aku menjumpai sebuah oto (kendaraan bermotor - ist.lokal) dengan tulisan "One Love" di belakangnya. Jadi lah lagu "One Love" milik Bob Marley menjadi soundtrack perjalanan hari ini. Karena begitu melihat tulisan itu, kepalaku yang konon sebuah songs bank ini secara auto mendendangkan lagu itu. Kami sudah sampai Londalima, namun entah kenapa Stef tidak juga meminggirkan motor bebeknya. Tapi aku bukanlah tipe orang yang banyak cing-cong. Aku terlalu menikmati perjalanan untuk protes mengenai tempat tujuan. Sihoreng Stef punya agenda sendiri, pasang pukat bersama bapaknya yang adalah seorang nelayan. Tapi aku senang saja. Toh intinya ke laut juga. Meski akhirnya seperjalanan pulang aku merasa ini adalah weekend paling menyenangkan di bulan ini.Kami berangkat dari rumah bapaknya Stef ke pantai Hambuang, Kapunduk, kecamatan Haharu. Sesampai disana aku berjalan menyusuri pantai, sekitar 500m dari drop zone. Damn. Tidak ada orang! Dan sejauh mata memandang, orang yang terlihat adalah rombongan kami saja. Empat dari kami sudah ke tengah memasang pukat. This means this beach is MINE! Tak ada orang lain disini! Aku membuka baju, dan mulai melakukan gerakan-gerakan sirkus. Mulai dari foot clap sampai brikdens. Beberapa saat kemudian, aku teringat dirinya. Honestly. Aku menginginkan dia ada di sini. Aku cek ponsel, tak ada sinyal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/Kapunduk.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#c0c0c0;"&gt;Going fishing at KAPUNDUK beach.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sebentar-sebentar aku menghampiri Stef dengan pukatnya dan bertanya ini-itu dan sedikit-sedikit ikut memeriksa tangkapan. Hey, aku dapat ikan bawal sebesar telapak tangan orang gendut seperti diriku! Namun kebanyakan waktu yang kuhabiskan disana cuma tidur-tiduran dalam air sedalam betis. Kadang tengkurap. Dan itu selama berjam-jam. Dan O,ya... Aku baru sadar dan langsung berteriak kegirangan: Aku melihat Flores! Ya, Flores terlihat dari sana meski agak samar-samar. Namun konturnya jelas. Aku bisa memastikan pulau di sebelah kirinya adalah pulau komodo. Aku kembali teringat dirinya... Phew. Merasa cukup berlenjeh-lenjeh, aku mulai bermain pasir. Selama berusaha membuat sebuah bangunan, lagu "Rumah Yang Yahud" milik Naif terus kudendangkan. "Bangunlah sebuaah.. rumah yang yahud. Dimana kita kaaan.. dapat bersama. Tak ada yang dapaaat menyusup masuuk ke dalaaam.." Duh. I'm a little boy weighing at 95 kilo. Fuck it.Sore hari kami mulai mengumpulkan tangkapan. Beberapa dipisahkan untuk dibakar. Hampir semua udang yang nyangkut menjadi santapanku. Haha. Ikan laut tak perlu dibumbui. Mereka sudah asin dari sananya. Ini kali pertama aku menyantap ikan tangkapan sendiri. Meski di sini tak ada sunset, namun apa yang telah kulakukan di hari ini sudah tak memerlukan estetika alam. Aku pulang dengan bahagia. Yeeha.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22943279-114931655929591887?l=quigonjean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://quigonjean.blogspot.com/feeds/114931655929591887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22943279&amp;postID=114931655929591887' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/114931655929591887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/114931655929591887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://quigonjean.blogspot.com/2006/06/bulan-3-fishermen.html' title='BULAN 3 : FISHERMEN'/><author><name>Qui-Gon-Jean</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12046164409557654863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://www.geocities.com/mailhendri/Aing.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22943279.post-114804401662587048</id><published>2006-05-19T04:15:00.000-07:00</published><updated>2006-06-10T22:50:10.640-07:00</updated><title type='text'>BULAN 3 : THE REAL HEAT</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;CUACA bulan ini mulai panas. Kemarau yang ditunggu-tunggu mulai tercium kedatangannya. Aku sendiri tidak menunggu musim panas. Namun berhubung tak ada survey bila masih hujan, maka kemarau ibarat sebuah isyarat untuk kembali jalan-jalan. Lagipula proyek pembangunan sumur tahap I di 6 desa tak mungkin dilakukan sebelum kemarau, kalau tidak, akan tertipu akuifer temporer musim hujan.&lt;br /&gt;Namun meski begitu, bulan ini masih sempat melakukan kunjungan ke desa. Dan itu yang terakhir di bulan ini. Desa Praikarang. Sebuah wilayah bertanah subur yang sangat jarang bisa ditemui di pulau Sumba.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#c0c0c0;"&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;/span&gt; THE VIEWS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img height="375" src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/View01.jpg" width="500" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Landscape in Desa Praikarang. Beeaauuuuuutifuuull.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img height="375" src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/View02.jpg" width="500" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;The Long and Windy Road. That leads me to your door.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img height="375" src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/View03.jpg" width="500" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Heey.. Buffalo Bill, how do you feel? Nothing is real. Soon you'll be killed. Turns out you're their meal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr style="BORDER-RIGHT: #9d8a71 1px dotted; BORDER-TOP: #9d8a71 1px dotted; BORDER-BOTTOM-WIDTH: 1px; BORDER-BOTTOM-COLOR: #9d8a71; BORDER-LEFT: #9d8a71 1px dottedcolor:#9d8a71;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;/span&gt; THE PEOPLE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img height="440" src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/pipel.gif" width="500" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr style="BORDER-RIGHT: #9d8a71 1px dotted; BORDER-TOP: #9d8a71 1px dotted; BORDER-BOTTOM-WIDTH: 1px; BORDER-BOTTOM-COLOR: #9d8a71; BORDER-LEFT: #9d8a71 1px dotted; COLOR: #9d8a71"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img height="375" src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/Sumur.jpg" width="500" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Mrs.K:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; "What the hell is THAT? &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;J:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; "That, madam... is general Achmad Yani."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr style="BORDER-RIGHT: #9d8a71 1px dotted; BORDER-TOP: #9d8a71 1px dotted; BORDER-LEFT: #9d8a71 1px dotted; BORDER-BOTTOM: #9d8a71 1px dottedfont-size:78%;color:#9d8a71;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;/span&gt; THE CREATURES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img height="750" src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/Kolase-02.jpg" width="500" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;LONDALIMA beach.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Pada akhirnya memang gambar bisa lebih banyak bercerita daripada tulisan. Meski tidak selalu. Lagipula belakangan ini aku memang kehabisan kata-kata. &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22943279-114804401662587048?l=quigonjean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://quigonjean.blogspot.com/feeds/114804401662587048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22943279&amp;postID=114804401662587048' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/114804401662587048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/114804401662587048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://quigonjean.blogspot.com/2006/05/bulan-3-real-heat.html' title='BULAN 3 : THE REAL HEAT'/><author><name>Qui-Gon-Jean</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12046164409557654863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://www.geocities.com/mailhendri/Aing.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22943279.post-114475183535099048</id><published>2006-04-11T03:10:00.000-07:00</published><updated>2006-04-11T03:37:15.363-07:00</updated><title type='text'>BULAN 2 : GET BUSIER</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"&gt;TADINYA aku pikir aku mampu bikin &lt;em&gt;diary project&lt;/em&gt; selama aku berada disini. Selain laptop yang dijanjikan telat 3 minggu, diary yang sudah kubuat dengan tulis tangan memang akhirnya membuat diriku kewalahan untuk memindahkannya ke &lt;em&gt;Microsoft Word.&lt;/em&gt; Selain tumpang tindih dengan diary hari ini, juga pekerjaanku semakin lama makin banyak. Seringkali kejadian hari ini kutuliskan dua hari kemudian, dan seterusnya. Belum lagi kalau molor sehari. Makin lama jadi seperti hutang yang membuatku semakin malas membayarnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;img src="http://www.geocities.com/mailhendri/umaumba/Kolase-01a.jpg" border="0"&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Dua minggu yang lalu aku akhirnya terjun juga ke lapangan. Orientasi sambil survey keliling desa. &lt;em&gt;Thank God&lt;/em&gt; Pam membeli kamera untuk keperluan bahan buku dan publikasi lainnya. Dan bang! Aku ditembak sebagai fotografernya karena dianggap punya 'estetika' dibanding kawan-kawan tim teknis dan tim sosial. Hihi. Rencanaku untuk membeli kamera digital akhirnya kubatalkan. &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22943279-114475183535099048?l=quigonjean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://quigonjean.blogspot.com/feeds/114475183535099048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22943279&amp;postID=114475183535099048' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/114475183535099048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/114475183535099048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://quigonjean.blogspot.com/2006/04/bulan-2-get-busier.html' title='BULAN 2 : GET BUSIER'/><author><name>Qui-Gon-Jean</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12046164409557654863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://www.geocities.com/mailhendri/Aing.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22943279.post-114448881820748197</id><published>2006-04-08T02:24:00.000-07:00</published><updated>2006-04-08T03:23:03.613-07:00</updated><title type='text'>BULAN 1 : 4 HARI PERTAMA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"&gt;“&lt;em&gt;Cobalah kalian naik ke atas meja. Lihatlah ruangan ini. Sungguh menyenangkan melihat ruangan ini dari sudut pandang yang lain. Ruangan ini jadi sungguh berbeda&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;- intisari sebuah adegan film &lt;strong&gt;Dead Poet Society&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#999999;"&gt;KAMIS, 2 MARET 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INI lah mungkin hari yang menjadi awal perjalanan pertama ku ke luar Jawa. Namun hari ini begitu datar. Tidak banyak hal yang menarik untuk dicatat. Jam 7 pagi tadi aku berangkat dari rumah bapakku. Sebelumnya aku sempat berselisih dengannya. Kami memang sangat buruk dalam berkomunikasi sehingga kemungkinan terjadinya salah paham memang sangat besar. Namun aku mau pergi jauh. Aku tak ingin terjadi sesuatu sebelum pergi. Maka aku mundur dan menyuruh maju sisi diriku yang lebih pandai berdiplomatis. Masalah selesai meski aku merasakan bapakku masih gelisah.&lt;br /&gt;Hari ini adalah klimaks dari pikiran-pikiran yang meresahkanku selama satu minggu. Hari kamis minggu kemarin aku membulatkan niatku untuk hengkang dari Jakarta. Dua minggu yang lalu hidupku biasa-biasa saja, routine as fuck, seperti halnya robot-robot lain di metropolis. Meski aku tak pernah benar-benar merasa jadi robot, dan tempatku bekerja tidak mengenakan jam kerja 9 to 5 seperti standar. Aku biasa masuk jam 2 siang. Meski durasinya tetap saja sama karena aku biasa pulang jam 10-11 malam, tapi aku sedikit diberi keleluasaan untuk mengatur sendiri pekerjaanku. Yang jelas, sabtu adalah deadline. Hari Minggu sampai Selasa aku bisa melakukan hal-hal lain dan hari Rabu kembali mulai bekerja. Pekerjaan impian, sebenarnya. Dan aku sudah merasa aman dan nyaman bekerja di sana. Namun sebuah SMS dari seorang kawan merubah segalanya. Menyadari bahwa hidup hanya urusan memilih dan memutuskan, maka aku mulai mempertimbangkan peluang ini.&lt;br /&gt;Aku mulai gemetar ketika aku sadar aku tak tahu apa yang kucari di kota ini. Uang, pangan, papan dan sandang sudah jelas kebutuhan. Namun apa yang kucari selain itu? Bila memang hanya itu, mengapa pula harus Jakarta? Aku ingat suatu waktu ketika kawanku Ika menemuiku di kantor, aku sempat menceritakan kegemaranku memutar-mutar globe dalam ensiklopedi digital encarta, hanya untuk mencari dan mendata tempat-tempat bernama aneh di daerah pegunungan dan pesisir pantai. Dan aku seringkali berhasrat untuk mendatangi tempat-tempat tersebut. Ika kemudian menawarkan sebuah perjalanan dari biro travel yang ia ketahui mengenai jadwal keberangkatan travel ke Ujung Kulon. Namun bukan itu yang kumau. Bukan pula adventure menebas alam seperti yang kawanku Nikkolai sukai. Aku ingin datang, berkenalan dengan warga, menginap, bahkan mungkin menetap.&lt;br /&gt;Sudah tiga bulan aku meninggalkan rumah orang tuaku. Aku hidup dalam sebuah kontrakan kecil tanpa membawa barang-barangku, kecuali komputer. Bukan saja karena komputer dapat memberiku hiburan, tapi juga komputer pula-lah yang sampai saat ini telah memberiku makan. Dan aku akhirnya sadar, barang-barangku yang lain hanyalah beban. Meski aku sangat-sangat menghargai mereka. Koleksi buku dan rekaman ku sudah kuanggap sebagai artefak, sebuah bukti yang bisa ku jadikan semacam timeline dimana esok nanti ingin ku presentasikan pada anak cucuku. Namun bila mengingat hasrat nomaden ku, mereka akhirnya memang menjadi beban. Dan perasaan-perasaan sayang itu ternyata memang ilusi belaka, karena sampai saat ini toh hidupku baik-baik saja tanpa mereka. Sama seperti ketika beberapa bulan lalu aku terpaksa meng’hangus’kan nomor ponselku. Hidup tanpa ponsel ternyata lebih tenang, sebenarnya. Apalagi televisi. Aku sudah ‘men-sholat-i’ televisi udzurku tiga tahun yang lalu. Dan aku tak pernah berniat untuk memiliki yang baru.&lt;br /&gt;Kini, aku harus siap meninggalkan semuanya. Memulai sesuatu yang baru. Aku butuh hal baru. Aku butuh lingkungan baru. Meski beberapa goal ku adalah barang lama, namun aku ingin pindah kereta. Aku tak mau lagi jadi penumpang kelas bisnis. Aku ingin jadi masinis. Bila perlu aku ingin memutus gerbong dan menjalankan lokomotif seorang diri. Aku bertemu dengan orang Belanda bernama Pam Minnigh di Bogor. Dia lah yang memberiku peluang untuk hasrat-hasratku. Meski aku pikir justru Andreas Steve lah yang ‘bertanggung jawab’ untuk hal ini, karena ia yang menginformasikan hal ini padaku. Pam menawariku apakah aku berminat untuk ikut dengannya dalam sebuah proyek di pulau Sumba, NTT. Ia cukup memberi ruang padaku karena aku masih diperbolehkan untuk tetap bekerja di Jakarta dan bekerja untuknya di waktu senggang. Namun ia bersikeras bahwa untuk itu aku harus setidaknya satu bulan tinggal di Waingapu untuk riset dan merasakan sendiri kondisi lapangan. Namun tak ada employer yang rela anak buahnya pergi satu bulan, meski tanpa gaji. Setelah kupastikan beberapa hal penting dengan Pam, aku memutuskan untuk memilih salah satu saja. Karena berjalan di atas dua jalur yang solid sungguh beresiko tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:webdings;color:#999999;"&gt;===&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapakku dan istrinya mengantarku sampai bandara Soekarno-Hatta. Aku berpisah dengan mereka di depan bandara karena pengantar tidak diperbolehkan masuk. Tidak lama setelah check-in aku mulai berkutat dengan kotak kecil yang mampu mengirim pesan pendek itu. Beberapa kawan dekat yang tak sempat aku pamiti sebisa mungkin aku kabari. Aku sebenarnya tak suka pamit-pamitan. Namun aku pergi menggunakan kendaraan yang beresiko tinggi meski prosentasenya kecil. Setidaknya bila terjadi sesuatu, mereka tahu aku selalu mengingat mereka. Diantara kawan dekat yang kukabari, salah satunya kini sedang berada di Bengkulu. Lucunya, ia kemudian menelepon dan mengabarkan bahwa sebenarnya ia akan tiba di Jakarta sore nanti. Kami tertawa.&lt;br /&gt;Jam 10.30 penumpang dipersilahkan boarding. Aku kecewa begitu mendapati tempat dudukku sudah diduduki orang. Aku meyakinkan diri dengan kembali memeriksa tiket. 15F, benar. Dan seharusnya itu berada di dekat jendela. Lalu mengapa orang itu duduk disana? Sialnya, aku bukanlah orang yang mudah bersuara sehingga aku menerima nasib dan duduk saja di kursi bernomor 15C. Namun akhirnya aku senang juga duduk disitu, karena bisa memperhatikan dengan jelas para pramugrari yang sudah tentu cantik-cantik itu, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan setiap kali mereka mondar-mandir, bahuku selalu tersenggol dan aku bisa mencium wangi parfum mereka. Hmmm..&lt;br /&gt;Jam 12.20 pesawat telah berada diatas Bali dan beberapa menit kemudian mendarat dengan mulus di bandara Ngurah Rai. Perbedaan waktu antara Denpasar dan Jakarta adalah satu jam. Maka menurut WITA, aku tiba disana pukul 13.30. Di luar baggage claim beberapa orang berkerumun dan banyak dari mereka mengacung-acungkan kertas bertuliskan nama-nama orang. Satu diantaranya bertuliskan namaku. Aku tatap matanya dan kami pun saling bertukar senyum. Ia supir hotel yang telah dipesankan oleh Yanthi dari Waingapu. Sampai hotel aku memutuskan untuk tidur saja setelah aku pikir aku tidak begitu segar untuk jalan-jalan sedikit di Legian. Tak lama telepon kamar berdering. Kurir yang mengantarkan tiket ke Waingapu telah datang. Aku memang menantikannya. Namun setelah itu aku kembali tertidur dan bangun kembali hampir tengah malam. Merasa lapar dan terlalu malam untuk keluyuran, aku memutuskan untuk pesan di restoran hotel saja. Ayam bakar rica, nasi putih 2 dan Aqua besar 1 botol. Sambil menunggu pesanan aku mengetes bathtub. Hmm. Aku berendam air hangat. Selesai berendam dan makan, aku menyalakan televisi dan menyaksikan pertandingan sepak bola sampai akhirnya tertidur kembali. &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#999999;"&gt;JUMAT, 3 MARET 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FUCK! Aku terperanjat. Sambil menyumpah-nyumpah aku mencari-cari ponselku. Aku sudah menyalakan alarm. Namun tadi aku matikan ketika menyala dan kembali tertidur. Kuperiksa waktu di ponselku. Jam 8.45. Dan itu masih setelan WIB. Butuh beberapa waktu untuk menghitung dan menyadari bahwa itu berarti jam 9.45 WITA. Aku melompat dari kasur dan segera mandi dan... pffhh.. aku menyesal terlalu banyak membongkar muatan backpack hitam besarku itu. Aku langsung check out dan bergegas menuju bandara Ngurah Rai dan "sarapan" disana.&lt;br /&gt;Bandara Ngurah Rai agak lebih ketat dibanding Soekarno-Hatta. Terbukti sabukku bisa memicu alarm di sini. Dan, ah.. sial. Disini juga aku dikenai pajak sebesar 30 ribu rupiah. Duh. Namun selanjutnya aku agak terhibur karena setelah check-in dengan maskapai, backpack besarku tergolong ringan sehingga bebas biaya bagasi.&lt;br /&gt;Di ruang tunggu, dalam benakku sebelumnya aku berpikir akan menemukan orang-orang "traveller" dan semacamnya. Benar saja. Seorang perempuan bule dengan celana gunung selutut dan mengenakan boots sudah duduk disana. Carrier berukuran setengah badannya tersandar disampingnya. Lalu ada juga seorang perempuan "manise" dengan manik-manik yang sepintas mengingatkanku pada Janis Joplin, dan... oh no, please god, no. Datang serombongan orang kota terdiri dari seorang bapak, dua orang ibu dan tiga orang anak kecil. Damn. Begitu melihat mereka, aku sudah merasa berada di Jakarta kembali. Benar saja, belum juga boarding mereka sudah cerewet. Ticket this, ticket that.. sruduk this, sruduk that.. duh. Aku mencoba berbicara dengan seorang bapak yang duduk disebelahku. Dia orang Sumba asli. Kebetulan.&lt;br /&gt;Pukul 12.35 WITA pesawat take off. Satu jam lebih beberapa menit kemudian pesawat sudah melayang diatas Pulau Sumba. Yeah.. dengan memandang dari dalam pesawat aku sudah bisa memastikan kalau pantai disini memang oke. Tak sabar rasanya. Flight host memberitahukan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat, sekaligus menyebutkan jam waktu Waingapu. Aku mencocokkan jam.&lt;br /&gt;Pesawat mendarat agak keras di bandara Mau Hau, Waingapu, yang kemudian setelah kulihat lebih mirip Puskesmas daripada bandara. Yang membedakan hanyalah plane track saja. Hihi. Aku berjalan dengan sedikit cengar-cengir sambil memandangi pemandangan sekelilingku. Banyak penduduk berdiri diluar pagar, menyaksikan landing pesawat tadi, dan kemudian dilanjutkan dengan take off kembali menuju Maumere. Aku pun suka sekali menyaksikan pesawat take off atau landing. Meski aku berasal dari kota besar, tidak setiap hari aku melihat pesawat mendarat dan tinggal landas. Kecuali mungkin waktu aku masih SMA, aku sering menyaksikan pesawat take off karena sekolahku terletak di belakang bandara Halim Perdana Kusuma. Sebagian besar dari penduduk yang berkerumun di luar pagar adalah anak-anak usia SD. Mereka senyam senyum melihatku. Aku pun senyam senyum melihat mereka.&lt;br /&gt;Aku dijemput oleh seorang staf dari ProAir. Iqbal namanya. Ibunya orang Sumba, bapaknya orang Bugis. Namun wajahnya lebih banyak mewarisi ibunya, kupikir. Tiba di kantor ProAir, aku disambut oleh Pam Minnigh dan kemudian diperkenalkan dengan staf yang ada. Pam kemudian menawarkan apakah aku mau tinggal di rumahnya atau di hotel. "Terserah ibu.." Jawaban bodoh, tapi diplomatis. Aku diizinkan untuk tinggal di rumah Pam untuk sementara waktu sampai aku dapat tempat tinggal sendiri.&lt;br /&gt;Sore harinya aku sempat diantar melihat-lihat sedikit situasi dan suasana Waingapu oleh mas Made. Dari namanya sudah jelas, dia orang Bali. Melihat kota kecil ini aku teringat Nagreg dan Cicalengka. Hanya saja disini jalanan lebih lengang dan jarak antar bangunan agak renggang. Aku tidak perlu khawatir akan kebutuhan sehari-hariku. Banyak toko disini. Kami berhenti di sebuah Pujasera dan memesan sate kambing. Di Waingapu ternyata banyak orang Jawa yang membuka usaha pengisi perut.&lt;br /&gt;Made memiliki cukup banyak pengalaman dalam menjelajahi tempat-tempat terpencil di Indonesia. Aku banyak bertanya tentang tempat-tempat yang sempat ia jelajahi. Ia mengklaim bahwa dirinya adalah orang pertama yang mengelilingi taman nasional Lorelindu di Sulawesi Tengah, sebelum daerah itu ditetapkan sebagai hutan lindung. Ia pernah melakukan penelitian di Kalimantan, Flores, dan Sumatra. Aku tertarik dengan Flores maka sebisa mungkin aku minta gambaran mengenai medan disana.&lt;br /&gt;Made mengantarku ke rumah Pam. Malam harinya aku di-brief oleh Pam mengenai beberapa aturan dalam rumahnya. Aku suka cara dia menyampaikan hal tersebut sehingga aku tidak sungkan untuk sekedar membuat kopi, misalnya. Beberapa saat kemudian aku sudah berbaring di atas kasur dan mencoba untuk tidur meski beberapa serangga berseliweran. Entah serangga apa, aku tidak begitu mengenalinya. Aku tak berniat menutup jendela dan aku pun tidak begitu tertanggu karena tidak butuh waktu lama untuk kemudian benar-benar tertidur. &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#999999;"&gt;SABTU, 4 MARET 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BRRR… lumayan dingin. Jam 8 pagi. Tapi aku kepingin mandi. Dengan mengencangkan otot aku mengguyur badan. Bwaa.. tapi tidak begitu lama kemudian aku makin semangat mengguyur. Selesai berpakaian, Pam memanggil dan menawariku untuk sarapan. Nasi goreng. Yep. Seorang ibu membuatkan nasi goreng. Ibu ini sebenarnya pemilik rumah yang ditinggali Pam ini. Ia tinggal disebelah. Pam menyewa rumah ini dari ibu itu dan ibu itu juga bekerja disini. Rumah ini cukup besar. 5 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang depan yang cukup besar berisikan beberapa lemari buku yang berisi banyak buku-buku yang hanya bisa kulihat di toko buku seperti QB, National Geographic, Time, Newsweek, dan sebuah televisi 21” lengkap dengan DVD player serta satu rak berisi DVD yang kebanyakan bajakan lokal. Ruang tengah agak kosong, hanya diisi meja, kulkas dan dispenser. Ruang makan ada di teras belakang, menghadap kebun. Suami si ibu kadang terlihat sedang merawat kebun tersebut. O,ya rumah ini juga dihiasi dengan berbagai jenis tanaman serta 4 ekor anjing. Aku lupa siapa saja nama anjing itu. Yang kuingat adalah seekor anjing betina putih bernama Heli. Hkhkhk.. aku tak mungkin lupa nama anjing itu. Tapi si Heli ini pemalu. Aku perhatikan anjing ini badannya agak kurus. Si ibu bilang Heli memang kurang makan. Ah, Heli, Heli… Semalam dia sempat menciumi tanganku. Tapi tadi dia kabur begitu kuhampiri. Aah, si Heli mah ah… Aku pergi ke kantor. Hari sabtu sebenarnya libur. Tapi kemarin aku sempat janjian dengan mas Made untuk briefing di kantor. Kaki baru saja menginjak pelataran luar rumah Pam, ketika seseorang mengendarai sepeda motor memperlambat laju sambil menunjuk-nunjuk, “ojek, bos?”&lt;br /&gt;Ojek disini agak unik. Selain tarifnya yang bikin aku melongo (untuk jarak yang biasa kubayar Rp.5000 di Jakarta, disini cukup Rp.2000 saja), juga kadang aku menemukan ojek yang full music. Hihi. Breng..breng.. rrrrrr… Ini dia. Ada sebuah turunan asoy yang ketika akan menuruninya, aku bisa melihat garis pantai tepat tegak lurus dengan arah jalan. Mas Made bilang, kalau lagi beruntung aku bisa samar-samar melihat Flores dari situ. Uuh.. sudah begitu, kiri-kanan jalan pemandangannya adalah bukit-bukit hijau yang mengingatkanku pada Jatinangor era 80-an.&lt;br /&gt;Di kantor, begitu lah. Briefing-briefing, sketching-sketching, ngopi-ngopi. Sorenya main ping pong di koridor depan. Gedung kantor ini sebenarnya milik Pemda. Bentuk dan ukurannya seperti kantor lurah. Atapnya di buat menyerupai atap rumah adat disini. Kantor ini digunakan sementara oleh ProAir sampai proyek selesai. Aku kembali ke rumah Pam diantar mas Made. Di teras kutemukan beberapa pasang sandal perempuan. Ada tamu Pam, kupikir. Si Heli kembali kabur begitu kuhampiri. Sambil meledek si Heli aku masuk kedalam. Tamu-tamu itu ternyata adalah Yanthi dan Ani. Mereka duduk diatas tikar bersama Pam. “How’s your english today, Hendri?” Pam bertanya. Uh-oh… “not so good..” aku menjawab sekenanya. “Now, put your things away, and then sit here and join us.” Aha. Aku baru sadar aku baru saja jongkok dekat mereka sambil menenteng-nenteng sepatu. Selesai cuci muka, cuci kaki, aku kembali ke depan. Mereka ternyata membuat sebuah grup kecil yang punya agenda pertemuan setiap sabtu untuk yaa.. practicing english gitu, lah. Aku gembira mendengarnya. Kali ini mereka mencoba sesi show and tell dengan masing-masing menunjukkan sebuah artikel dari majalah dan menceritakan kembali isi artikel tersebut. In english. Yanthi menunjukkan sebuah artikel dalam National Geographic tentang penemuan mural tua di sebuah gua di Kalimantan. Agak kikuk dia. Karena tak sepatah kata pun keluar ketika diminta pendapatnya tentang artikel tersebut. Bahkan ketika akhirnya Pam menyerah dan memintanya berpendapat dalam bahasa Indonesia. Aku tahu rasanya. Aku pernah mengalaminya. Aku mencoba mencairkan dengan sedikit-sedikit berbicara dengan bahasa Inggris yang sebenarnya juga tak lebih bagus dari Yanthi. Cuma mungkin Yanthi masih malu-malu. Sementara aku sudah tak tahu malu. Dalam kegiatan seperti ini, aku tidak punya masalah bila aku jadi orang yang paling rendah tata bahasa inggrisnya karena aku tahu, grup ini dibuat justru untuk mengurangi masalah tersebut. Namun aku juga maklum. Kami baru 1 hari berkenalan. Ada kecanggungan disana. Berbeda dengan Yanthi, Ani lebih berani bersuara, meski aku tak mengerti apa yang dikatakannya dan ia cekikikan sesudahnya . Hihi. Women. Kami akhirnya menonton VCD Discovery tentang AIDS, karena Yanthi memerlukan bahan untuk kampanyenya bersama kawan-kawannya di LSM. Kami sepakat untuk mengadakan pertemuan lagi minggu depan, dengan beberapa pekerjaan rumah untuk dibahas nanti. &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;MINGGU, 5 MARET 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUDAH beberapa kali aku terbangun. Dan untuk kesekian kalinya pula, aku memutuskan untuk kembali tidur. Uuuh… enak sekaaliii… Cuaca agak dingin, dan suara yang kudengar hanya suara pohon tertiup angin dan sesekali gonggongan anjing. Kadang ada motor lewat, tapi tak banyak. Hari minggu orang-orang pergi ke gereja. Dan aku pun sudah punya agenda. Jalan kaki. Ya, jalan kaki. Kadang aku akan lebih mengenal sebuah daerah hanya dengan satu kali jalan kaki. Karena dengan jalan kaki aku punya banyak waktu untuk memasukkan setiap visual yang kudapat kedalam memori.&lt;br /&gt;Jam menunjukkan tepat pukul 11.00. Ini saatnya. Belum terlalu siang, namun sudah terlalu siang untuk tidur-tiduran terus. Dari ruang depan terdengar suara Pam sedang berbincang. Sedang ada tamu, dia. Suara Pam cukup lantang. Kadang terdengar seperti seorang bos yang sedang menegur anak buahnya. Tapi tidak, ia memang berbicara seperti itu. Maklum lah, ia tidak 100% mengenal intonasi dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Aku pamit untuk jalan-jalan pada Pam. Dan ternyata tamu Pam ada banyak, 5 orang. Mungkin waktu aku mandi tadi ada yang datang lagi, karena yang kudengar sebelumnya hanya satu orang. Keluar rumah Pam, aku agak bingung. Pilih arah kiri atau kanan? Ke kiri berarti sudah dekat dengan jalan raya Waingapu-Waikabubak. Sedangkan ke kanan berarti aku akan melewati bukit dan turunan asoy itu. Hmm… aku memutuskan untuk lewat kiri. Leftist, hehe… nggak ding. Aku memutuskan untuk pulangnya saja nanti lewat dari arah kanan.&lt;br /&gt;Maka… mulai lah aku berjalan. Lumayan banyak motor yang lewat. Dan cukup banyak juga yang membunyikan klakson sambil menunjuk-nunjuk. Mulanya aku masih senyum sambil “give em five”. Tapi lama-lama bosen juga. Hingga sampai di jl. Ahmad Yani, ojek yang menawari akhirnya hanya kujawab dengan gelengan kepala. Itu pun sambil ngos-ngosan. Terbayang apabila aku senyum dalam keadaan kehabisan nafas. Nyengir gak karuan yang ada.&lt;br /&gt;Aku kira di setiap kota di Indonesia mesti ada Jl. Ahmad Yani. Aku berpikir, mungkin jalanan ini sudah ada semenjak jaman Belanda dulu. Buktinya, sebuah Sekolah Dasar yang aku temukan di sebuah belokan dari jl. Ahmad Yani dibangun tahun 1914, seperti yang kubaca pada papan namanya. Dan dulu pasti namanya bukan jalan Ahmad Yani. Mungkin jalan Ombehele Ngisange, entahlah. Hihi. Jalan ini sepertinya jalan utama, seperti jalan Asia Afrika di Bandung yang dihubungkan dengan Cicaheum oleh ruas jl. … ah, fuck.&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian aku menemukan sebuah warung bakso yang setelah kuperhatikan, juga menyediakan gado-gado. Kutengok, cukup ramai juga. Seperti layaknya tukang bakso, pelanggan terbanyak tentunya para chicks begitu lah. Hihiy. Aku membelokkan kaki.&lt;br /&gt;Gado-gado di sini agak berbeda. Bukan saja sayurannya yang tentu saja berlainan dengan yang biasa kumakan, tapi kadar air yang terkandung dalam bumbunya juga lebih banyak. Jadi bumbu pecelnya agak lebih encer. Tapi cabenya (disini disebut ‘lombok’) benar-benar dahsyat. Cukup tuangkan setengah sendok teh, maka kepala serasa ditusuk jarum. Keringat bercucuran. Apalagi leho. Beuuhh…&lt;br /&gt;Aku tak pernah berani main mata dengan gadis lokal. Maka satu-satunya cara untuk memandangi mereka adalah ketika mereka berdiri dan membayar. Cantik-cantik, Manuhutu-Manuhutu begitu lah, hehe. Aku jadi tak sabar ingin segera pergi ke Dalima.. Daliman.. Damila Lima..? Ah lupa. Yang jelas itu konon katanya adalah pantai terdekat yang paling bagus. Aku geli sendiri membayangkan gadis-gadis tadi menari hula di tepi pantai. Hmm… apa perlu kubawa mini compo milik Pam kesana? Kebetulan aku bawa semua koleksi Bob Marley ku. Hihiy. Ah tapi yang jelas hari ini aku tak bisa pergi jauh-jauh.&lt;br /&gt;Aku tiba di sebuah bundaran di ujung jalan Ahmad Yani. Kupikir, ini mungkin semacam ‘alun-alun’nya kota ini. Aku masuk ke dalam sebuah kompleks di daerah Matawai (aku mengetahui nama daerah ini dari papan nama sebuah bank) yang di dalamnya memuat sekolah, pasar, bank, ruko, beberapa kantor BUMN, perumahan dinas dan penduduk lokal, gereja, dan sebuah lapangan sepak bola. Aku tak perlu khawatir akan tersesat karena jalan-jalan dalam kompleks ini membentuk garis-garis kotak yang masing-masing berujung di jalan Ahmad Yani tadi. Aku masuk ke dalam pasar. Sekalian survey toko. Siapa tahu ada toko yang menjual perabotan plastik yang biasa jadi inceran anak kost. Aku berjalan lurus hingga melewati sebuah Sekolah Dasar, dan… tunggu. Apa itu? Dari kejauhan aku melihat sebuah rumah dengan menara tinggi, persis seperti menara radio layaknya stasiun rumahan ORARI atau semacamnya. Di depan rumah tersebut terpampang sebuah papan nama yang bentuknya mirip dengan papan nama di depan kolam renang Karang Setra, Bandung. Samar-samar aku memperhatikan huruf-huruf di atas papan nama itu. Terlihat jelas ada sebuah huruf “@” terselip di antaranya. Aku memicingkan mata… W..@..R..N..E..T.. !!! War…net? Warnet?? Tak sadar kakiku melangkah makin cepat. Ya, benar. Warnet. Aku celingukan di depan rumah itu. Tak tampak ada aktivitas. Pintu tertutup rapat. Namun setelah diamati, di kaca depan bagian dalam tergantung sebuah papan kecil. “Closed”. Ah… sial. Hmm… mungkin pemiliknya pergi ke gereja. Dan memang sedari tadi pun aku memperhatikan banyak sekali toko yang tidak buka. Tak apa. Lihat saja besok. Kuserbu kalian semua…&lt;br /&gt;Cuaca mulai ganas. Berangkat dari rumah Pam tadi, awan cukup tebal menghalangi matahari. Tapi kini mereka sepertinya sengaja memberi jalan pada ultra-violet untuk menyalami kulitku. Aku berpikir untuk mengenakan bandana; yang dari tadi kulilitkan di pergelangan tanganku, ke kepalaku. Tapi aku terlalu malas. Setengah jam kemudian aku menyerah. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah Pam.&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu aku sempat mengamati peta Waingapu pada buku travel milik kang Ugi di kantor TEMPO sebelum resign. Jalan di kota ini tidak rumit. Cuma memang aku seringkali terperdaya oleh jalan protokol Waingapu yang ternyata eh ternyata adalah jalan melingkar. Ketika berangkat dari rumah Pam tadi, aku menyusuri jalan tersebut sampai Matawai. Padahal ternyata ada jalan memotong langsung ke sana. Dan benar-benar memotong ‘krek’ karena ternyata titik berangkat dengan titik tujuan ku hampir sejajar. Dan jalan besar yang menghubungkannya berbentuk busur mendekati 180 derajat.&lt;br /&gt;Aku sudah terlanjur bertekad untuk kembali lewat jalan yang berbeda. Maka konsekuensinya aku harus menempuh perjalanan melewati jalan berbukit. Rute ini melewati kantor ProAir. Maka sesampai disana aku mencoba menengok ke dalam. Tak ada orang. Made kemarin bilang meskipun hari Minggu, kadang orang-orang datang juga ke kantor untuk sekedar cek e-mail atau main pingpong. Tapi tidak hari ini. Aku melanjutkan perjalanan pulang.&lt;br /&gt;Terik matahari ada manfaatnya juga. Semenjak kedatanganku ke sini langit lebih sering mendung. Oleh karena itu hari ini pemandangan yang kulihat agak berbeda. Bukit-bukit terlihat lebih jelas. Rumput-rumput di bukit seberang tampak benar-benar hijau. Langit lebih biru. Laut pun terlihat biru dari turunan asoy itu, sementara kemarin hanya memantulkan warna putih. Aku berhenti sejenak. Meski matahari terasa menyengat, namun angin di sini selalu bertiup kencang.&lt;br /&gt;Sampai kembali ke rumah Pam, tamu-tamu tadi masih ada. Dan sepintas aku mendengar pembicaraan mereka tampaknya serius. Aku langsung menjatuhkan diri di atas kasur setelah memberi senyum pada semua orang di ruang depan. Aku ingin tidur lagi. Tapi aku ingin mandi. Mata ku melirik pada tumpukan kaos kotor. Mengingat sekarang sedang terik, aku berniat untuk mencuci pakaian. Saat mencuci itu lah aku menyadari kulitku hangus. Kulit lengan bagian atas tampak lebih gelap dibanding pergelangan tanganku yang tadi terbungkus bandana. Ibaratnya, kulit lengan ku seperti di fill tinta hitam dengan opacity 20%. Zebra.&lt;br /&gt;Malam sebelum tidur aku membaca buku “Dunia Di Balik Kaca” tulisan Donna Williams. Ini buku lama. Namun ketika aku menemukan buku ini di rak kantor TEMPO, aku memutuskan untuk mengambilnya. Aku memang tak pernah sempat membaca buku ini. Sengaja ku bawa ke sini karena aku tahu aku akan punya waktu lebih banyak sekarang.&lt;br /&gt;Ah, Donna… dunia mu mirip sekali dengan duniaku. Maka aku menangis. Walau aku memang tak se-malang nasibmu, namun aku menemukan banyak sekali hal yang sama dalam duniamu. Aku suka sekali menutup mata dan mengejar-ngejar gumpalan putih seperti nebula yang muncul di antara bintik-bintik warna. Aku suka memandangi sebuah titik di permukaan dinding dan memandanginya bermenit-menit. Aku sesekali suka memukuli wajahku sampai pening. Meski aku tak mempan oleh tipuan-tipuan dunia moderen, namun aku sering terperdaya oleh hal-hal sepele. Aku tertidur dengan mata sembab. &lt;span style="font-family:webdings;"&gt;&lt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22943279-114448881820748197?l=quigonjean.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://quigonjean.blogspot.com/feeds/114448881820748197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22943279&amp;postID=114448881820748197' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/114448881820748197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22943279/posts/default/114448881820748197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://quigonjean.blogspot.com/2006/04/bulan-1-4-hari-pertama.html' title='BULAN 1 : 4 HARI PERTAMA'/><author><name>Qui-Gon-Jean</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12046164409557654863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://www.geocities.com/mailhendri/Aing.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
